Adamsign’s Story

Catatan Seorang Teman, by Nur Septiana

Posted in Activity, cinta alam by adamsign on October 26, 2012

Catatan Perjalanan COPALA

Prakata

Hello COPers.. 21 – 23 Oktober 2011 adalah waktu bersejarah bagi COPALA karena ini adalah kedua kalinya COPALA melakukan eksplorasi alam. Dengan mengusung tema ROMEO ( Romantics Memories for Central Operations), COPALA berharap agar pendakian puncak Mahkota Jawa Barat, yaitu Puncak Gunung Pangrango yang mencapai ketinggian 3096 mdpl (meter diatas permukaan laut) ini memiliki cerita dan kenangan romantis di dalamnya.

Di ekspedisi  ini COPALA membebaskan seluruh insan COP untuk ikut serta dalam menikmati keindahan alam Gunung Gede Pangrango. Tidak ada syarat khusus untuk mengikuti pendakian ini (dan seluruh pendakian selanjutnya). Hanya dibutuhkan  NIAT dan TEKAD yang bulat untuk menjajal berbagai rintangan alam yang akan ditemui dalam menuju puncak.

Mulai September hingga awal Oktober 2011, perwakilan COPALA di masing-masing department telah mengumpulkan 18 Pendaki. Ditambah lagi 4 orang yang berasal dari jaringan pertemanan masing-masing pendaki. Hingga pendaftaran ditutup, tercatat 22 orang yang akan menjalani ekspedisi pangrango ini.

COP sendiri memiliki 5 calon rocky mountain (sebutan untuk penakluk gunung, red). Mereka adalah Andi Bara, Angga Ariawan, Putu Virgatha, Rusdarian Febriansyah, dan Nur Septiana. Akankan mereka mampu untuk mencapai visi ekspedisi COPALA kali ini?

Silahkan menikmati catatan perjalanan kami…

Jumat, 21 Oktober 2011

20.00 WIB

Sentra Mandiri dan Plaza Mandiri

Seluruh pendaki mempersiapkan barang bawaan masing-masing. Bagi para pendaki baru, ini adalah saatnya me-repackage carrier dan day pack masing-masing dengan bantuan para Pemula (Pendaki Manula, sebutan untuk para pendaki senior, red). Barang inti seperti makanan, obat-obatan pribadi, raincoat, dan sleeping bag wajib hukumnya dibawa.

Tips untuk the next rocky mountain : ‘Kosmetik dan parfum adalah BIG NO untuk ekspedisi seperti ini J  serta bawalah baju secukupnya. Tidak perlu khawatir akan bau badan, karena bau  tanah yang basah dan embun yang sejuk yang akan lebih mendominasi perjalanan ekspedisi ini”

 

21.00 WIB

Sentra Mandiri to Plaza Mandiri

Bus ¾ Hiba Utama yang akan mengantarkan COPALA ke tempat pendakian sudah siap untuk diberangkatkan. Pukul 21.45 bus tersebut tiba di Plaza Mandiri untuk menjemput pendaki lainnya.

Karena satu dan lain hal, Pendaki yang berangkat hanya berjumlah 15 orang, terdiri dari 13 laki-laki  dan 2 orang srikandi 2 orang pendaki lainnya adalah teman pendaki COPALA.

Di ekspedisi kali ini , COPALA akan memulai ekspedisi melalui Cibodas. Perjalanan dari Jakarta menuju tempat tujuan tidaklah mudah. Seperti biasa, Jumat malam merupakan waktu bagi para pekerja untuk pulang lebih malam dari biasanya,  sehingga jelas, jalan tol yang diklaim sebagai jalan bebas hambatan padat merayap. Whirlwind ini pun dijadikan kesempatan bagi COPALA untuk memanfaatkan perjalanan ini dengan charging the energy, yaitu dengan tidur

23.30 WIB

Taman Nasional Gede Pangrango – Cibodas

Akhirnya COPALA tiba di taman nasional Gunung Gede. Sebelum memulai pendakian, bandrek, kopi, dan pop mie yang dijual oleh warung-warung sekitar pun menggoda COPALA untuk sedikit menyicipinya.

Setelah itu, tepat pada pukul 00.00 COPALA memulai perjalanan menuju pos Gunung Gede. Setiap orang yang akan mendaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango harus melapor terlebih dahulu. Hal ini diperlukan untuk mendata siapa saja yang menjadi pendaki maupun wisatawan Air Terjun Cibereum. “Per harinya, pengelola Gunung ini hanya memperbolehkan maksimal 200 orang untuk naik gunung ini. Supaya Gunung ini tidak menjadi Gunung sampah yang dicemari oleh sampah para pendaki. Jadi ketika kita diatas, sampahnya dikumpulkan dan dibawa lagi ke bawah ya..”ujar Bli Ketut, salah satu pemula (baca : pendaki muka lama) di ekspedisi kali ini.

Seusai melapor, Ketua COPALA (seumur hidup), Om Dodo memberikan arahannya bagi para pendaki. “Kita semua disini adalah keluarga. Keluarga baru kita. Harfiahnya, keluarga harus saling menjaga. Itulah yang harus kita lakukan selama 3 hari ke depan”, pesannya.

Aries, sebagai satu-satunya lulusan pesantren diantara para pendaki,segera memimpin doa usai om Dodo memberikan pengarahan. “Semoga tujuan kita untuk mencapai puncak Pangrango tercapai dan seluruh COPALA selalu sehat hingga pendakian ini selesai”,doanya yang serentak diamini oleh seluruh pendaki.

 

Sabtu, 22 Oktober 2011

00.30 – 02.30 dini hari

Perjalanan menuju Pos 1 yang terletak di pertigaan Cibereum, masih terhitung mudah untuk dilalui. Jalanan yang sudah di-paving blok dan dibentuk seperti tangga memudahkan para pendaki untuk terus maju walaupun hanya berbekal senter dan head lamp dari masing-masing pendaki.

Namun seperti juga perjalanan hidup kita, jalanan yang ditempuh para pendaki pun tidak selamanya mulus. Di tengah perjalanan, para pendaki menemui jembatan kayu, yaitu jembatan yang hanya beralaskan potongan kayu dan hanya memiliki 3 tumpuan batu. “Di bawah jembatan ini adalah tanah rawa yang becek dan jarak antara jembatan dan tanah hanyalah 3 meter. Ayoo jangan takut, pastikan tempat kita berpijak adalah batu dan bukan kayunya yaaa..” ujar Kemmal memberikan semangat para pendaki lainnya . “Kalau kita melewati jembatan ini di pagi atau siang hari, pemandangannya sangat bagus,,sayang kita harus melewatinya di malam hari”, tukas Om George.

Setelah berhasil melewatinya, para pendaki menemui Aliran Mata Air Telaga Biru. Konon air ini masih steril dan bisa langsung diminum “Inilah yang kita cari, hasil alam yang benar-benar murni”, seru Ucin sambil membaca papan yang menuliskan cerita terkait dengan Mata air tersebut.

Selama dua jam berjalan, akhirnya para pendaki tiba di Pos 1. Seusai mendirikan tenda, para pendaki diharuskan untuk tidur karena maksimal jam 8 pagi, kami sudah harus berjalan ke Puncak.

05.30 – 07. 30 WIB

Bli Ketut yang merupakan MasterChef di ekspedisi ini J mempersiapkan sarapan bagi para pendaki. 2 asisten barunya, yaitu Ucin dan saya (yana), yang sehari-harinya hanya bisa memasak nasi goreng tanpa rasa pun, turut membantu beliau di dapur dadakan COPALA.

Sambil menunggu sarapan siap, terlihat Andi Bara dan Om Aray bermain catur di tenda mereka. “Dimana pun saya berada, catur adalah game saya. Hingga dipuncak nanti pun, saya harus memainkan Catur” canda Abe, panggilan para pendaki untuk Andi Bara.

Kalau di Jakarta kita terbiasa makan dengan piring dan sendok garpu, lain halnya di gunung. Bagi para pendaki, daun pisang adalah piring dan tangan adalah sendok garpu. Walau begitu, kebersamaan terasa sungguh kental. “Mie rebus, ikan teri, ikan pinda asin, dan nasi secukupnya terasa lebih enak ketika dimakan bersama”, ucap Hadi Rosmana, maskot pendakian kali ini.

Setelah makan dan mempersiapkan barang bawaan lainnya, para pendaki pun menjalani stretching bersama. “Supaya seluruh otot gak kaget ketika melakukan pendakian” ujar instruktur Aries.

07.30 – 11.00 WIB

Pendakian kali ini dibagi ke dalam 2 team . Team pertama yang dipimpin oleh Bli Ketut terdiri dari  Angga, Ucin, Kemmal, Abe, Rian, Briggil Luthfi dan saya (yana).  Sedangkan para Pemula (baca : pendaki muka lama), yaitu Om Dodo, Aray, George, Hadi, Jalil, Aries, dan Oncom tergabung di team 2. Tepat pukul 07.30, Team pertama berangkat dengan sesekali berhenti. Maklum , team pertama ini memuat 5 orang yang baru pertama kali mengikuti pendakian gunung “ Gapapa, gak usah dipaksakan, asal kita tetap konsisten jalan pasti sampai ke tujuan” tukas Brigil (baca : lutfi) menyemangati para pendaki.

Setapak demi setapak pun dilalui oleh para pendaki. Jalanan paving blok, berubah menjadi tanah yang dipenuhi dengan akar pohon dan sesekali batu-batu kecil. Tak dipungkiri, jalanan yang menanjak memang melelahkan, hingga para pendaki selalu mengucapkan rasa syukur ketika bertemu BONUS. Apa itu Bonus? Bonus adalah jalanan yang landai dan menurun. “Lumayan kan buat saving energi” ujar para pendaki.

Setelah terus berjalan, kami yang tergabung dalam team 1 menemui Air Terjun Aliran Panas. Para pendaki harus melewati puncak air terjun dengan menapak pada batu batu kecil dan berpegangan dengan tali yang disiapkan oleh pengelola Gunung pendakian. Bagi para pendaki yang menggunakan sandal gunung, pasti merasakan betapa panasnya air ini “Kebetulan saya pake sandal gunung dan jelas airnya menyentuh kaki saya.. serasa disetrum dan setengah jam panasnya baru ilang di kaki..tapi ini medan favorit saya, So Challenging!” kesan saya  terhadap medan ini .

Tak berapa lama, para pendaki pun tiba di tempat yang beralirkan air hangat. “Kita istirahat disini dulu yah, sambil berendam di air hangat untuk mengurangi rasa pegal” saran Kemmal. Sudah banyak para pendaki lain yang merendamkan kaki dan badannya disini. Kami pun ikut berendam dan merasakan hangatnya air alam. Disini pun kami juga mendapati beberapa penjual nasi uduk. Nasi uduk seharga Rp. 6000,  yang hanya terdiri dari dua kepalan nasi, sedikit mie, dan beberapa potongan telur dadar, terasa begitu mengenyangkan ketika lapar. Bagi saya, para penjual nasi uduk ini sangat hebat karena setiap hari selalu naik gunung demi mendapatkan penghasilan. Saya jadi ingat beberapa teman  saya yang seharusnya malu karena mengeluh bahwa pekerjaannya sangat melelahkan. Pengalaman ini harus diceritakan kepada mereka bahwa masih ada orang yang kurang beruntung dari kita J

11.00 -14.30 WIB.

Setelah puas berendam di air, para pendaki  pun melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya, yaitu Kandang Batu. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari sejam untuk mencapainya. Kami berniat untuk memasak bahan makanan sebagai makan siang kami. Tapi ternyata, kami hanya menemukan beberapa ikan Pinda dan ikan teri serta sedikit nasi di tas kami. Sedangkan bahan makanan lengkap lainnya berada di tas Aries yang bergabung di team 2. Karena kami tidak tahu berapa jauh jarak antara kami dengan team 2 , kami pun memutuskan untuk memasak seadanya.

Seusai memasak dan makan, kami memutuskan untuk tidur siang dibawah pohon yang sangat rindang (pohon disini benar-benar pohon yang rindang karena besar, tinggi, dan banyak daunnya). Kami juga berharap bahwa team 2 akan segera muncul dan kami dapat berjalan bersama sampaik ke pos selanjutnya. Di pos ini sesekali banyak pendaki lain yang lewat. Yang paling mencengagkan bagi kami adalah ada sekelompok pendaki yang terdiri dari anak usia 13 -15 tahun. Wow, malu deh saya yang baru merasakan naik gunung di umur yang sudah kepala 2 ini. Dalam hati saya berbisik “ Kalau mereka kuat sampai puncak, saya juga harus kuat sampai puncak”.

14.30 -21.00 WIB

Hadi dan Om George dari team 2 sudah datang namun para pendaki lainnya belum terlihat, tetapi cuaca yang mulai gelap memaksa Bli Ketut untuk memutuskan melanjutkan perjalanan sampai pos terakhir, yaitu Kandang Badak. Jangan dibayangkan di pos itu banyak Badaknya ya, hehehe..kami pun tidak tahu kenapa pos itu dinamakan Kandang Badak

Sampai di Kandang Badak, ternyata sudah banyak para pendaki yang mendirikan tenda. Bli Ketut dan para pendaki laki-laki lainnya pun mencari tempat bagi kami  untuk mendirikan tenda. Setelah mendapatkan tempat dan mendirikan tenda, kami mendapatkan informasi dari para pendaki lain, bahwa anggota team 2 ada yang sakit, sehingga membutuhkan waktu perjalanan yang lebih lama. Karena kami adalah keluarga, maka kami menunggu kedatangan mereka untuk dapat mendaki puncak bersama. Sementara menunggu, Bli Ketut serta dua asistennya kembali memasak untuk makan malam. Ketika telur dadar campur baru selesai dimasak, teman-teman dari team 2 pun akhirnya datang. Namun tak lama kemudian, sekitar pukul 5 sore, hujan besar mengguyur Kandang Badak. Saya dan Ucin digiring untuk masuk ke dalam tenda sedangkan yang lainnya tetap diluar menjaga barang-barang kami.

Selama di tenda tidak ada aktivitas lain yang saya dan ucin lakukan selain bertukar cerita (off the record yaaaah J) namun saya dan ucin bersyukur karena kami jadi semakin dekat dan dapat mengenal satu sama lain dengan baik (asiiiik ketemu sahabat baruuu \m/)

Sambil memeluk tas kecil para pendaki yang berisi gadget, kami pun mulai merasakan kedinginan. Hujan yang tak kunjung berhenti membuat kami harus makan malam dengan nasi dan telur dadar campur tadi. Sesekali para pendaki lainnya memberikan kami teh dan kopi hangat serta semangkuk mie rebus yang baru saja dimasak. Derasnya hujan membuat tenda tempat kami berteduh dibanjiri oleh air. Dengan bantuan para pendaki lainnya, kami pun mengeluarkan air tersebut. Tak berapa lama, kami dipindahkan ke tenda lainnya yang sudah didirikan dan dikeringkan dari banjir. Kami pun diminta untuk beristirahat agar jam 2 pagi dapat melanjutkan perjalanan ke Gunung Pangrango.  Hingga pukul 21.00 kami terjaga, hujan deras masih mengguyur tempat kami. Kami hanhya bisa berdoa agar hujan segera berhenti dan kami dapat melanjutkan perjalanan kami.

Nb : Kami hanya memiliki 3 tenda, beberapa pendaki laki-laki terpaksa tidur diluar dan hanya beratapkan terpal. Kalau kata Om Dodo, anggap saja kita tidur di titanic atau kapal karam lainnya. Bagi beberapa pendaki lainnya, kami cukup beruntung untuk merasakan hujan besar di Gunung, sehingga kami merasakan suka duka perjalanan naik gunung secara lengkap. Bagi saya pribadi, dengan turunnya hujan, semakin melengkapi cerita saya kepada teman-teman mengenai perjalanan ini. Toh hidup juga tidak selamanya berjalan mulus, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: