Adamsign’s Story

Braga (Ketika Bangunan Bersejarah Tetap Dipertahankan)

Posted in place by adamsign on May 9, 2009

braga

Ketika kota lama di pertahankan dan ketika semua saksi bisu masa lalu masih tetap ada maka akan banyak misteri yang dapat kita ungkapkan. Kita dapat merasakan kondisi di masa itu. Kehidupan disaat kita belum ada didunia yang penuh dengan sejuta cerita unik dan mungkin tidak terulang kembali saat ini..

Dalam tulisan kali ini, penulis ingin berbagi cerita tentang pengalaman penulis ketika liburan ke Bandung dan mengunjungi salah satu sudut kota Bandung, yaitu Jl. Braga yang memiliki banyak bangunan-bangunan tua yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia. Dengan bermodalkan kamera handphone 2 megapixel, dan minuman secukupnya penulis bersama teman mencoba menelusuri Jl. Braga. Dapat dilihat pada foto di atas, keadaan jalan braga yang cukup unik, dengan bangunan tua disisi kanan dan kiri, dengan jalan yang ruas jalan yang tidak besar dan banner-banner iklan yang di sesuaikan dengan kondisi bangunan. Ada sentuhan Eropa disitu, dengan atap terbuka tanpa dilindungi dengan pohon-pohon besar, dan kebetulan Bandung sedang panas siang itu. Indah sekali saat itu, ketika kendaraan dengan tertib melintas, melihat beberapa orang berjalan kaki dengan digital camera, dan tidak ketinggalan pula kelompok penggemar kamera Lomo (salah jenis satu kamera yang bentuknya unik dan menghasilkan gambar yang unik pula)  yang juga berwisata sambil mendokumentasikan keadaan di Jl. Braga tersebut. Saat itu penulis juga asik memperhatikan bangunan-bangunan sekitar sambil merekam keadaan saat itu bersama teman penulis dengan hanya menggunakan kamera handphone 2megapixel, dopod 818pro. Penulis sengaja mengambil gambar BW (hitam-putih) agar semakin terasa masa lalunya.

Dengan melihat keadaan seperti ini penulis seperti merasakan bagaimana kehidupan pada masa itu. Dengan bangunan yang bergaya Eropa seperti ini tentunya pada saat itu banyak orang Eropa yang berlalu lalang disini. Dan para bangsawan pribumi yang juga bergaya seperti orang Eropa. Penulis juga membayangkan kendaraan-kendaraan yang melintasi Jl. Braga pada saat itu. Klasik sekali, seperti di film-film pada masa penjajahan, perang dunia pertama dan cerita-cerita sejarah yang dipelajari pada waktu sekolah dahulu. Selain itu penulis juga dapat melihat begitu tingginya kesungguhan orang-orang pada masa itu dalam mendirikan bangunan. Ketebalan beton dinding, kokohnya konstruksi bangunan, detail bangunan hingga seni arsitektur bangunan tersebut benar-benar diperhatikan. Tidak seperti bangunan-bangunan kontraktor proyek pemerintah sekarang ini. Dengan adanya pemotongan atas dana yang dikucurkan akibat dari lobi dan berbagai pembengkakan budget akibat dari kebijakan invisible hand yang menaikan harga bahan baku pada laporan keuangan proyek tersebut dan juga pengurangan terhadap jumlah bahan baku bangunan yang telah ditetapkan sehingga membuat sebagian besar bangunan, terutama bangunan pemerintah saat ini tergolong tidak kokoh dan jauh dari nilai seni arsitektur yang sebenarnya diinginkan.

Dari perjalanan kali ini penulis dapat mengambil hikmah, alangkah indahnya jika kita tetap memelihara peninggalan sejarah yang merupakan saksi dari seni, budaya, dan kehidupan pada masa lampau agar kelak anak cucu kita dapat juga merasakan keindahan masa lalu itu. Dengan adanya sedikit pemugaran tanpa merubah bentuk aslinya juga akan kembali memperkokoh bangunan sehingga pengunjung tetap merasa aman ketika berwisata ke bangunan-bangunan tua tersebut. Menghancurkan bangunan lama dan mengganti dengan bangunan modern bukan menjadi jaminan atas meningkatnya keindahan suatu kota. Dengan mempertahankan bangunan serta peninggalan-peninggalan bersejarah yang lain tentunya akan memberikan suatu nilai unik pada kota tersebut, dan tentunya pengunjung/wisatawan akan mencari keunikan dari suatu kota yang dikunjunginya.

Sedikit tentang pengalaman penulis mengenai tidak terpelihara dan hilangnya bangunan bersejarah terjadi di kota kelahiran penulis sendiri, yaitu di Tanjungpinang-Kepri. Bangunan tersebut adalah bangunan Sekolah Dasar penulis SDN 007 dan SDN 008, yang berlokasi di Jl. Teuku Umar Tanjungpinang Kota (Depan Bestari Mall). Bangunan tersebut merupakan bangunan tua yang memiliki arsitektur cukup unik dengan aula yang berbentuk segi enam, pintu kelas dan jendela kelas yang cukup besar serta detail bangunan yang jauh dari kesan modern. Saat penulis masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), pemugaran sekolah tidak sepenuhnya dilakukan. Hanya memugar sedikit ruang Majelis Guru, sedangkan ruang kelas dibiarkan dengan hanya berusaha menjaganya tetap terlihat bersih. Dinding kelas ada yang berwarna hijau karena lumut, atap yang bocor, sekolah banjir ketika hujan dan lantai halaman sekolah yang rusak dan berlubang tidak diperhatikan. Beberapa tahun setelah penulis meninggalkan SD tersebut, bangunan tersebut pun dihapuskan dari peta Tanjungpinang Kota, diratakan dengan tanah sehinggal hilanglah kenangan masa SD penulis. Apakah ini merupakan keputusan yang terbaik atas peninggalan sejarah, saksi masa lalu dan kenangan-kenangan kita di masa lalu? Flashback sedikit, sebelumnya juga bangunan SMPN 2 di depan SD penulis juga diratakan dengan tanah dan dibangun Bangunan Modern Bestari Mall yang belakangan ini penulis melihat sepi dari pengunjung. Penulis berharap bangunan masa lalu yang masih ada tetap dijaga, dan bangunan-bangunan modern dapat dibangun di lahan-lahan kosong yang masih tersedia di Kota Tanjungpinang dan Pulau Bintan, sehingga kota Tanjungpinang khususnya dan pulau bintan pada umumnya tetap memiliki sudut kota yang unik dan penuh dengan nilai sejarah. Untuk pemerintah juga mohon dijaga kelestarian bangunan bersejarah dipulau penyengat, bangunan besejarah harus bersih dari coretan tangan-tangan usil, bersih dan indah. Jika diperlukan pemugaran hendaknya tidak mengurangi nilai aslinya.

Semoga tulisan penulis kali ini dapan memberikan manfaat tersendiri bagi penulis dan teman-teman yang membacanya. Akhir kata terima kasih atas kunjungannya, penulis menunggu komentar dan tulisan balasan dari pembaca.

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. nandini said, on May 24, 2009 at 5:08 am

    adanya kota lama ngebuad kita berimajinasi, kayaa apa sii kehidupan masa lampau..
    mskipun uda idup di jaman metorpolitan, tapi yg namanya ‘nostalgia masa lampau’ pasti ttep kita kangenin..

    hehee.. *gaya lo akhh..

    ga jadi ke tutup blognya bangg??
    hhe..

  2. adamsign said, on May 24, 2009 at 7:18 am

    thanks.. benar-benar.. kadang2 kan yang ada di masa lampau bisa terjadi lagi.. kyk fashion aja dari masa lampau tetap berputar guling gitu-gitu lagi hehehe.. apalagi kalo sekarang jamannya “vintage”.. wah itu taon brapa tuh.. hahaha..

    yang langsung dot comnya bakalan ketutup sebulan lagi.. yang ini mah tetep awet dah..

  3. Astri Simbolon said, on June 9, 2009 at 2:31 pm

    Wah, setuju banget bung.. Bangunan lama harus tetap dipertahankan..
    Coba deh ke Bandung lagi tapi ke daerah Jl. Sunda, Manado, Aceh dan sekitarnya. Di situ lebih banyak bangunan2 lama dan bersejarah yang telah menjadi wilayah Militer.. Klo menurut aku, Braga memang memiliki nilai seni yang tinggi namun wilayah lain seperti daerah yang aku sebut diatas juga, sama nilainya kok..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: